30.5.13

Please Look At Me

Please, look at me
By:
~evilkyung~
Cast:
Park Sang Il as Kim Je Wook
Channie Park as Park Hyun Kyung
Park Hyo Jin as Bella Kim
(Full Of OC)
Support Cast:
-
Genre:
Romance, One-Sided Love, Hurt (maybe)
Length
One-shot
Author Notes:
This Fan Fiction was based my love story in real world-_-v And also based on 48Family’s song, Baby! Baby! Baby! X3

.
Please, Look at Me!
.
“Jewookie!!!” ucap seorang yeoja kesal sambil melambai-lambaikan tangannya tepat didepan wajah seorang namja yang dia panggil dengan sebutan ‘Jewookie’ tadi. “Jewookie! Jewook! Wook! Wookie!” teriak yeoja itu sambil melambaikan tangannya sekali lagi. ‘Anak ini kesambet apa sih? Dari tadi ngelamun mulu-_-‘ batin yeoja tadi. “YAK!!!! KIM JEWOOK!!!”
“Aish, Kyung. Berhentilah berteriak ditelingaku,” jawab Jewook cuek sambil menutup telinganya, lalu menatap kesatu titik lagi. “Ish~!!! Kau ini lagi ngapain sih? Dari tadi ngelihatin kesana terus,” tanya Hyunkyung, lalu mendudukkan dirinya disebelah Jewook. “Lihat lah kesebelah sana Kyung. Ada Bella. Dia cantik sekali,”
‘Aigoo~ Tidak bisakah kau mengalihkan pandanganmu kepadaku?’ batin Hyunkyung merana. Jujur saja, sudah sejak lama sekali Hyunkyung menyukai, ah, ani, lebih tepatnya mencintai sahabatnya itu. “Aigoo~ Uri Jewookie sudah besar ternyata. Haha~” Hyunkyung mengacak-acak rambut Jewook, lalu tertawa, sebenarnya, tawa itu bukan tawa lepas, karena hatinya tengah menangis pada saat ini.
“Tsk, aku memang sudah besar dari dulu Kyungie-ah =_=a”
.
“Kyungie~” pekik Jewook saat dia sampai dirumah Hyunkyung, dan langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Hyunkyung. “Wae, wookie-a? Ada masalah?”
“Bella, kyung!! Bella!! Dia menerima cintaku~!! Haha~!!” Jewook tanpa sadar memeluk Hyunkyung sekali lagi, dengan erat pula. “Mwo….?” tanya Hyunkyung dengan nada tidak percaya. “Waeyo?”
“Ah, aniya~ Chukkae, wookie-ah~ Wish you all the best with her, la~” Hyunkyung kini melepaskan pelukan Jewook, dan mencubit pipi Jewook pelan. “Terimakasih, Kyungie. Kau memang sahabatku yang terbaik!” balas Jewook sambil mengacak-acak rambut Hyukyung. “Cheonmaneyo, itu sudah tugasku, bukan?” Hyunkyung memberikan senyumnya, bukan senyum manis seperti biasanya, melainkan senyum ketulusan dan kesedihan.
—-
“Kyung chagi~”
“Eh, jewook?” ucap Hyunkyung dengan nada tidak percaya. “Ne, kyung chagi~ ini aku~ Masa kau lupa dengan ku? Jahat~” rengek Jewook. ‘Apa ini mimpi? Pukul aku sekarang.’ Batin Hyunkyung. Dia menatap Jewook yang tersenyum sangat manis padanya. “Jewook, apa ini mimpi?”
Jewook tidak menjawab apa-apa, hanya tersenyum pada Hyunkyung. “Kemarilah~” panggil Jewook. Tiba-tiba saja, Jewook memeluk Hyunkyung begitu erat, lalu mencium pucuk kepala Hyunkyung. Hyunkyung hanya bisa membatu tanpa bisa berkata apa. Tanpa terasa matanya berlinang. “Kenapa kau menangis, eum? Jangan menangis,” ucap Jewook lembut, lalu mencium kedua kelopak mata Hyunkyung, agar tidak menangis lagi. “Kumohon, jangan menangis,” kali ini Jewook mengecup kedua pipi Hyunkyung perlahan. “Siapa yang menangis? Aku tidak menangis. Hanya terlalu bahagia saja.”
“Benarkah?”
“Eung~ Apa aku terlihat berbohong?”
“Tidak, hanya saja… aku tidak suka melihat kedua mata indah itu mengeluarkan air mata,” jawab Jewook sambil menangkup kedua pipi Hyunkyung, dan mendekatkan wajahnya.
Deg! Deg!
Jantung Hyunkyung berdetak begitu kencang, dan wajahnya kini memanas.
10 cm, 7 cm, 5 cm, 2 cm.
—-
KRING!!!!!!
“Oh sial, cuma mimpi,” rutuk Hyunkyung, lalu meloncat dari kasurnya dan bersiap-siap untuk menuju kesekolah.
.
Hyunkyung melangkahkan kakinya menuju halte bus. Sebenernya, dia merasa sangat malas kalau harus kesekolah dengan menaiki bus, karena dia terbiasa berangkat berdua dengan Jewook. Namun… saat ini Jewook tidak bisa menemaninya, karena… dia telah terlebih dahulu berangkat dengan Bella. Sungguh! Ini sangat menyebalkan!!!
.
“Jewook, kau ada dirumah sekarang?”
“Ne, wae?”
“Aku ingin bicara denganmu”
“Aku juga, bagaimana kalau kita bertemu di café biasa? Waktu lunch nanti?”
“Oke, bye~”
“Bye”
.
“Huft, aku harus menyampaikannya! Kyung, fighting!” ucap Hyunkyung menyemangati dirinya sendiri. Dengan segera dia beranjak dari kamarnya, dan pergi menuju tempat dia dan Jewook akan bertemu.
.
“Sudah lama?” tanya Jewook sambil mendudukkan dirinya didepan Hyunkyung. “Ani~ baru sekitar 15 menit saja.”
Hening, agak lama. Entah kenapa tiba-tiba mereka menjadi seperti ini.
“Kyung/Wook” ucap mereka berbarengan. “Ladies first.”
“Baiklah~ sebenarnya.. a.. aku…”
“Jewookie~!!!!” pekik Bella senang ketika melihat Jewook berada di café itu. “Hai, kyung~” sapa Bella pada Hyunkyung juga. “Hai,” sapa Hyunkyung balik.
“Wook, aku pergi dulu ya. Aku takut menganggu kalian berdua. Bye~!” lanjut Hyunkyung lalu pergi dari café itu secepat mengkin. “Hei! Park Hyunkyung! Kembali!”
“Waeyo, Jewookie?”
“Aniya~ Dia ingin berbicara sesuatu denganku, kau tidak perlu curiga chagi~”
.
Jewook tengah membaca subuah surat. Bisa kita lihat bahwa surat itu, ya… terlhat seperti surat cinta pada umumnya, namun yang mengherankan, surat itu berwarna dominan biru, dengan warna-warni lain disudut-sudutnya, yang membentuk desain yang indah –menurut Jewook- dan itu mengingatkannya akan seseorang. Dibacanya surat itu dengan perlahan, dan matanya terbelalak kaget begitu tahu siapa yang mengirimkan surat itu. Hyunkyung.
Jadi… sahabatnya mencintainya? Jewook merasa begitu bodoh, kenapa dia tidak menyadarinya sejak dulu. Bahkan, sahabatnya itu rela tersakiti hanya untuk melihatnya bahagia. Mata Jewook serasa memanas, ingin sekali dia menangis, tapi… dia adalah seorang namja. Namja yang baik adalah namja yang tidak menunjukkan air matanya didepan umum kan?
Jujur, saat ini Jewook ingin sekali meminta maaf pada Hyunkyung. Meminta maaf atas segala ke-tidak peka-annya terhadap perasaan yeoja itu. Tapi… Hyunkyung tidak berada di Korea lagi sekarng, dia tinggal China, meneruskan pendidikannya disana.
Dan sekarang, Hyunkyung sama sekali tidak bisa dihubungi, ditelfon tidak diangkat, email tidak dibalas, sms apa lagi.
“Hyunkyung, saranghae. Jeongmal saranghae. Mianhae karena telah membuatmu terluka. Mianhae. Jeongmal mianhae,” bisik Jewook sambil menatap surat terakhir dari Hyunkyung.
.
To: My babo bestie but lovely bestie ever, Kim Jewook X3
YA! Kim Jewook, tidakkah kau tahu? Kau itu sahabat sekaligus idola terbaik bagiku. Kau tahu kenapa? Karena kehadiranmu dihidupku bagaikan sebuah bintang yang bersinar terang. Dan karena kaulah, aku bisa mengerti apa itu arti hidup yang sesungguhnya.
Kau tahu, wook, aku ingin sekali memelukmu, sekali lagi, pada saat-saat terakhirku berada disampingmu, tapi sayangnya… kau lebih memilih pacarmu itu. Tentu saja, karena aku kan sahabat yan terlupakan kehadirannya :B
Terakhir, ijinkanlah kita menjadi kekasih, walau hanya dialam mimpi. Haha X”3
Saranghae, Kim Jewook.
Wo Ai Ni
Sign, your forgotten bestie

Park Hyunkyung
P.S : Aku sudah pergi ke China :p Jadi jangan mencariku lagi :p
P.S.S : Aku juga akan berganti nomor untuk waktu dekat ini, yeay! X’D
P.S.S.S : Aku rasa, kita tidak akan pernah bertemu lagi._. /innocent face/ Jadi~ Goodbye~ Saranghae~ :*
End-Kkeut-Tamat

Romantic

Author                  : @arsyadhea_k
Genre                   : Romance
Main Cast           :
  1. Cho Jinri (OC)
  2. Lee Taemin
Other Cast :
  1. SHINee
  2. Lee Yeonhee (OC)
  3. Choi Minyoung (OC)
  4. Krystal
  5. Lee Jihyun (OC)
Cast milik Tuhan dan milik orang tua mereka, sementara cerita ASLI milikku sendiri. No bash, No plagiat, and comment please ^^
And the story is… begin! ^^
Jinri menghela nafas. Asap putih terlihat seiring ia meniup udara (?). Musim gugur ini cukup dingin. Dan cukup mengesalkan.
Jinri mengetik nomor ponsel Yeonhee dengan cepat, dan menempelkan ponselnya di telinga. Sial! Yeonhee mematikan ponselnya. Pasti ia sedang bersama Jonghyun, kekasihnya. Kini Jinri menghubungi Minyoung. Sedang sibuk. Ia mungkin sedang menelepon Jinki, kekasihnya.
Jinri menghela nafas sekali lagi. Kedua sahabatnya sedang menghabiskan waktu dengan kekasih masing-masing dan ia harus berada di taman kampus yang dingin ini. Semua ini gara-gara Lee Taemin!! Namja itu menolak menjemputnya karena ia mengantuk dan ingin tidur. Bukannya Jinri ingin dimanjakan, tapi itu kan yang seharusnya ia terima dari Taemin? Taemin kan kekasihnya!
Jinri melangkahkan kakinya dengan cepat, ia ingin segera sampai di rumah. Tidak peduli bagaimana caranya. Naik bis, naik taksi, atau berjalan kaki. Ia sedang kesal!
“Jinri-ah!” seseorang memanggil namanya, membuat Jinri menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Oppa!” ia mendapati Kibum, kakak kelasnya sekaligus salah satu sahabat Taemin, sedang berjalan ke arahnya. Ia tersenyum.
“Mau pulang, ya?” tanya Kibum. Jinri mengangguk.
“Sendiri? Taemin tidak mengantarmu pulang?” tanyanya lagi. Jinri menggeleng.
“Ia sedang sibuk.” Bohongnya. Ia memang tidak pernah memberitahu siapapun tentang kekesalannya pada Taemin. Tidak Yeonhee, tidak Minyoung, tidak siapapun.
“Mau pulang denganku?” tawar Kibum. Jinri mengangguk cepat. Ia tidak akan menolak tawaran itu! Ia sangat kedinginan dan tawaran Kibum bisa membuatnya mencapai rumah lebih cepat.
“Kalau begitu ayo.” Kibum berjalan ke lapangan parkir kampus. Jinri mengikutinya dengan senyum gembira.
Jinri menatap ponselnya datar. Ponselnya bergetar, dan tertulis nama Lee Taemin di layarnya. Taemin meneleponnya malam ini. Tapi Jinri menolak mengangkatnya malam ini. Ia menunggu sampai ponsel itu berhenti bergetar. Setelah getaran itu berhenti, ia kembali membaca novelnya. Tapi ponselnya kembali bergetar. Lee Taemin kembali meneleponnya. Jinri menekan tombol merah lama – mematikan ponsel.
“Tidak diangkat?” sebuah pertanyaan mengejutkannya. Jinri mendapati kakaknya, Kyuhyun, berdiri di depan pintu kamarnya dengan sekaleng soda di tangan. Ia masuk ke kamar Jinri dan duduk di tepi kasur Jinri.
“Wae geurae?” tanya Kyuhyun. Jinri menunduk dan menggeleng.
“Kenapa kau tidak pernah bercerita? Aku selalu tahu kau ada masalah, tapi kau selalu berpura-pura ceria dan tidak mengatakannya pada siapapun.” katanya. Jinri mengangkat kepalanya dan menatap Kyuhyun datar.
“Masalah dalam hubungan itu sudah biasa, Saeng. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kau menyelesaikannya.” Nasihat Kyuhyun.
“Bagaimana kabar Seohyun Eonnie?” tanya Jinri, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan. Dan, Seohyun baik-baik saja.”
“Oppa, kalau Seohyun Eonnie meminta Oppa menjemputnya di kampus, padahal saat itu Oppa sangat mengantuk dan ingin tidur, apa yang akan Oppa lakukan?”
“Menjemputnya. Apalagi?”
“Tapi kan Oppa sedang sangat mengantuk?”
“Aku bisa tidur lagi setelah menjemput Seohyun. Wae? Taemin tidak menjemputmu karena ia mengantuk?”
“Dwaesseo. Oppa keluar sana, aku mau tidur!” Jinri mendorong Kyuhyun supaya berdiri dan keluar dari kamarnya. Kyuhyun tertawa.
“Geurae, geurae.” Kyuhyun keluar dari kamar Jinri dan menutup pintu.
Di kamarnya, Jinri kembali memikirkan perubahan Taemin akhir-akhir ini. Ia tidak lagi sering menghubunginya, tidak pernah menjemput jika tidak diminta, dan bertingkah menyebalkan. Jinri menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan semuanya. Ia harap, besok Taemin akan berubah seperti sebelumnya.
“Pelajaran kali ini selesai. Kalian boleh keluar.” Kata Park Gyosunim ketika bel berbunyi. Seluruh mahasiswa di kelas itu menutup buku mereka dan membawanya keluar kelas, termasuk Jinri, Minyoung dan Yeonhee. Mereka berjalan ke kantin. Minyoung dan Yeonhee heran melihat Jinri yang terlihat tidak bersemangat.
“Jinri-ah, wae geurae?” tanya Yeonhee.
“Apakah terjadi sesuatu di antara kau dan Taemin?” tanya Minyoung.
“Ani. Gwaenchana.” Jawab Jinri sambil tersenyum kecil.
Tiba-tiba 5 orang namja duduk di sebelah mereka, yaitu Jonghyun dkk. Yeonhee dan Minyoung tersenyum menatap kekasih mereka. Jinri mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Kyuhyun, hanya mengatakan hai. Ia tidak ingin berbicara dengan Taemin hari ini.
“Tadi mata kuliah kalian yang terakhir hari ini, kan?” tanya Jinki pada Jinri, Minyoung dan Yeonhee.
“Ne. Wae?” tanya Minyoung.
“Bagaimana kalau kita kencan bersama? Minho, kau juga ikut dengan Krystal.” Jinki menyebutkan nama kekasih Minho.
“Jadi, hanya aku yang tidak ikut?” tanya Key kesal.
“Aku tidak mau.” Kata Jinri langsung. Semua menatapnya heran.
“Wae? Biasanya kan kau yang paling ingin berjalan-jalan setelah kuliah?” tanya Yeonhee.
“Ne, tapi hari ini aku tidak mau.”
“Kau masih marah padaku karena masalah kemarin?” tanya Taemin.
“Mwo? Apa kalian bertengkar kemarin?” tanya Jonghyun bingung.
“Ani. Hanya saja aku tidak mau hari ini. Kebetulan hari ini Kyuhyun Oppa mengajakku mencari hadiah untuk kekasihnya.” Bohongnya.
Ponsel Jinri berbunyi. Seohyun menelepon. Jinri segera mengangkatnya.
“Ne, Oppa. Mwo? Arasseo, aku akan ke sana segera.” Jinri beranjak dan segera menjauh tanpa pamit dari teman-temannya. Setelah lumayan jauh, ia menghela nafas lega.
“Eonnie?”
“Kenapa kau memanggilku ‘oppa’?”
“Mianhaeyo, Eonnie. Ada alasan tersendiri, rahasia tentunya. Waeyo?”
“Kau masih ada mata kuliah setelah ini?”
“Aniyo, tadi yang terakhir.”
“Kalau begitu kau mau menemaniku pergi, tidak?”
“Pergi ke mana, Eonnie?”
“Mall. Aku ingin membeli hadiah untuk temanku. Kau mau menemaniku, kan?”
“Tentu, Eonnie.”
“Geurae. Aku akan menjemputmu di kampus sekarang.”
“Ne!”
“Terima kasih sudah menemaniku,” kata Seohyun lembut saat mereka sedang berjalan menuju mobil Seohyun.
“Cheonmaneyo, Eonnie. Lagipula Eonnie kan kekasih Kyuhyun Oppa.”
“Jadi, jika aku bukan kekasih oppamu, apa kau tidak mau menemaniku?”
“Aku akan tetap menemani Eonnie.” Jinri tersenyum. Seohyun juga tersenyum. Saat itu, Jinri melihat Taemin sedang berjalan dengan seorang yeoja. Jinri menahan nafas melihatnya. Hatinya terasa begitu sakit.
“Jinri-ah?” Seohyun heran melihat Jinri.
“Eonnie, aku baru ingat teman-temanku juga kemari. Kurasa aku akan menemui mereka. Eonnie pulang saja duluan.”
“Tapi ini sudah malam.”
“Aku akan baik-baik saja. Temanku bisa mengantarku, dan aku bisa jaga diri.”
“Oke.” Seohyun masuk mobilnya. Ia melambaikan tangan pada Jinri dan pergi. Jinri kembali menoleh ke arah Taemin. Kini dilihatnya Taemin membukakan pintu mobilnya untuk yeoja itu. Yeoja itu tersenyum dan masuk. Taemin menutup pintu mobil, kemudian berputar dan duduk di kursi kemudi.
Tak lama kemudian, mobil itu sudah meninggalkan tempat parkir. Jinri melangkah keluar dari tempat parkir. Ia sengaja tidak ikut mobil Seohyun karena ia ingin menangis. Dan ia tidak ingin siapapun tahu ia menangis.
Jinri duduk di pemberhentian bis terdekat. Masih pukul 19.30 KST, beberapa orang masih berada di sana, menunggu bis lewat ataupun menunggu taksi. Jinri tidak dapat lagi membendung air matanya. Air matanya mulai menetes. Ia pun tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya. Hatinya begitu sakit melihat Taemin berkencan dengan yeoja lain.
“Cho Jinri-ssi?” sebuah suara membuat Jinri mengangkat kepalanya. Ia langsung menunduk dan menghapus air matanya ketika melihat siapa itu.
“Wae geuraeyo? Kenapa kau menangis?” tanya Kim Jaeheon, teman SMP Jinri.
“Gwaenchanayo.” Jawab Jinri sambil tersenyum kecil. Jaeheon mengangguk-angguk kecil, teringat dengan kebiasaan Jinri yang tidak pernah menceritakan masalahnya pada orang lain.
“Kenapa kau masih di sini? Apa kau tidak pulang?” tanyanya lagi.
“Sebentar lagi.”
“Apa kau mau kuantar? Aku meminta kakak sepupuku untuk menjemputku. Ia bisa mengantarmu pulang terlebih dahulu.”
“Dwaesseo, aku bisa pulang sendiri.” Tolak Jinri.
Sebuah mobil merah berhenti di depan mereka. Jendela depan terbuka.
“Kibum Oppa!” sapa Jaeheon. Kibum tersenyum padanya. Tapi senyumnya hilang saat ia melihat Jinri.
“Jinri-ah?”
“Oppa mengenal Jinri?” tanya Jaeheon heran.
“Bagaimana aku bisa tidak mengenalnya, ia kan kekasih sahabatku!” Kibum tertawa.
“Kenapa kau belum pulang? Mau kuantar?” tawar Kibum.
“Ayolah, Jinri-ssi. Aku tidak akan tenang jika kau belum sampai di rumah,” bujuk Jaeheon.
“Baiklah,” mereka berdua pun masuk mobil Kibum.
“Aku pulang.” Seru Jinri pelan sambil melepas sepatunya. Kyuhyun keluar dari dapur dengan segelas teh di tangan.
“Kenapa kau baru pulang? Ke mana saja kau?” tanyanya – menginterogasi – Jinri .
“Pergi dengan Seohyun Eonnie, kemudian aku bertemu teman lamaku, dan ternyata dia adik dari Kibum Oppa jadi Kibum Oppa yang mengantarku pulang.” Jawab Jinri. Ia tidak bohong – sedikit. Ia melewati Kyuhyun dan pergi ke kamarnya. Ia mengunci pintu dan menjatuhkan diri di kasur. Kemudian ia meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan untuk Taemin.
To : Lee Taemin
Bogoshipeo…
Ia kemudian mematikan ponselnya dan kembali menangis.
Taemin membaca pesan dari Jinri itu dengan heran. Jinri hampir tidak pernah mengirim pesan seperti itu, kecuali jika Taemin yang memulainya. Taemin menelepon Jinri, namun ponsel Jinri tidak aktif. Ada apa dengan Jinri?
Jinri berjalan pelan. Entah ke mana tujuannya, ia hanya berjalan-jalan di taman ini. Ia tersenyum mengamati kegiatan orang-orang di sekitarnya. Saat ia kembali melihat ke depan, Taemin dan yeoja yang seminggu lalu dilihatnya sudah berada di depannya. Tangan mereka yang tadinya bertautan kini dilepas.
“Neo…” Jinri tidak sanggup berkata lagi. Ia berbalik dan lari.
“Jinri-ah!” Taemin mengejar Jinri. Ia akhirnya berhasil menahan tangan Jinri. Ia membalik tubuh Jinri dan memegang kedua pundaknya.
“Lepaskan aku!” teriak Jinri. Air matanya mengalir.
“Kau salah paham.”
“Apanya yang salah paham? Jelas-jelas aku melihat kalian berdua berpegangan tangan di depanku! Aku juga melihat kalian berkencan di mall seminggu yang lalu! Apa itu salah paham?” tanyanya lirih.
“Kau melihat kami di mall?”
“Ne! Kau bahkan membukakan pintu untuknya! Oh, aku tahu kenapa akhir-akhir ini kau berubah. Kau bosan denganku, jadi kau pergi bersamanya dan ternyata ia lebih baik dariku, lebih asyik diajak bicara, betul kan?”
“Jinri!”
“Mwo? Aku benar, kan? Sudahlah, Lee Taemin. Mulai saat ini hubungan kita berakhir.” Jinri melepaskan diri dari pegangan Taemin dan berlari pergi. Taemin terpaku di tempatnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Jinri.
3 hari setelah berakhirnya hubungan Jinri dan Taemin. Kini mereka bersembilan – termasuk Krystal – sedang berkumpul di cafe milik orang tua Jinki. Canda dan tawa menghiasi mereka, kecuali Jinri dan Taemin. Mereka tidak bisa fokus karena mereka merasa canggung satu sama lain. Jinri berusaha tidak memperhatikan Taemin, sementara Taemin sesekali melirik Jinri. Tidak perlu waktu lama hingga teman-teman mereka mengetahui kecanggungan yang ada.
“Kalian berdua kenapa? Apa kalian bertengkar?” tanya Jonghyun.
“A, aniyo. Kami tidak sedang bertengakar.” Elak Jinri. Taemin tidak mengatakan apapun.
“Apa itu benar, Taeminnie?” tanya Kibum. Taemin hanya tersenyum.
“Taemin Oppa!” seorang yeoja datang. Yeoja yang dilihat Jinri sedang berkencan dengan Taemin.
“Oh, Jihyun-ah!” Taemin terkejut. Jihyun tersenyum menatap teman-teman Taemin, tapi senyumnya hilang ketika melihat Jinri.
“Kau mau bergabung dengan kami?” tawar Jinki. Jihyun mengangguk canggung, dan duduk di sebelah Taemin. Hanya itu satu-satunya kursi kosong. Jinri melengos.
“Aku harus pergi sekarang.” Jinri bangkit.
“Wae? Kau tidak bilang kau punya acara hari ini?” tanya Yeonhee heran. Jinri hanya tersenyum, kemudian pergi.
“Jeongmal mianhae, Oppa,” sesal Jihyun.
“Gwaenchana.” Jawab Taemin.
“Wae? Kalian ada masalah? Kenapa kalian tidak mengatakannya pada kami?” tanya Krystal.
“Krystal-ah!” tegur Minho.
“Wae, Oppa? Aku kan ingin tahu. Kita sahabat mereka kan? Kenapa kita tidak boleh tahu?” tanyanya tanpa rasa bersalah. Kini semua orang menatap Taemin dan Jihyun dengan rasa penasaran.
“Sebenarnya…”
Jinri berjalan cepat meninggalkan cafe. Ia berusaha keras menahan air matanya. Ia tidak bisa berada di sana lebih lama lagi. Ia tidak sanggup melihat Taemin dan yeoja itu – siapapun namanya.
“Jinri-ah!” panggil Taemin. Ia berlari mengejar Jinri. Jinri mendengarnya, tapi ia malah mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin bertemu dengan Taemin ataupun yeoja itu lagi. Titik.
“Jinri-ah!” Taemin menahan tangan Jinri. Jinri terpaksa berbalik.
“Bisa kau lepaskan tanganku?” tanyanya dingin.
“Andwae. Kita harus bicara. Ada yang harus aku jelaskan padamu.”
“Tidak ada yang harus kau jelaskan. Semua sudah jelas!” Jinri berusaha menarik tangannya dari genggaman Taemin, tapi tidak bisa. Genggaman Taemin begitu keras sampai tangannya sakit.
“Lepaskan tanganmu! Tanganku sakit!” bentaknya. Taemin melonggarkan genggamannya, namun tidak melepasnya.
“Aku bilang lepaskan!” bentak Jinri.
“Aku tidak akan melepaskannya sampai aku selesai menjelaskan semuanya padamu.” ucap Taemin tegas. Ia menatap Jinri tajam.
Taemin menarik Jinri ke taman dan mendudukkannya di bangku panjang yang kosong di taman tersebut. Jinri tidak mau menatap Taemin, ia menatap ke arah lain, berusaha menahan tangisnya. Taemin duduk di sampingnya.
“Dia sepupuku.” Kata Taemin. Jinri langsung menoleh dengan ekspresi tidak percaya.
“Mwo?”
“Lee Jihyun. Dia sepupuku.” Katanya lagi. Jinri menatap Taemin meminta penjelasan.
“Aku memintanya menemaniku untuk mencari sesuatu di mall, dan dia setuju.”
“Apa yang kau cari?”
Taemin terlihat bingung. Ia kan tidak mungkin mengatakannya pada Jinri sekarang!
“Apa yang kau cari?!” ulang Jinri, lebih keras.
“Hadiah.”
“Untuk siapa?”
“Untuk…mu.”
“Untukku?”
“Besok kau kan ulang tahun, jadi aku ingin menyiapkan sebuah pesta kejutan untukmu. Karena aku tidak tahu apa yang kauinginkan, jadi aku mengajak Jihyun. Kalian kan seumuran. Denganku juga, sih.” jelas Taemin. Jinri mulai tersenyum. Ia terharu.
“Dan, kalau aku berubah akhir-akhir ini, itu karena aku punya terlalu banyak tugas kuliah. Dan aku juga perlu waktu untuk mempersiapkan pesta kejutan untukmu jadi…” ucapan Taemin terhenti karena Jinri menempelkan jari telunjuknya di bibir Taemin.
“Sudah cukup. Aku mengerti sekarang.” Ia tersenyum manis.
“Jadi, apa aku dimaafkan?” Taemin tersenyum. Jinri tersenyum.
“Hubungan kita tidak berakhir, kan?” Taemin memastikan. Jinri menggeleng. Taemin refleks memeluk Jinri. Jinri berusaha melepaskan diri dari pelukan Taemin.
“Hei, lepaskan! Ini di taman!” tegurnya. Taemin pun melepaskan pelukannya.
“Mianhae. Aku terlalu senang.”
“Aku juga minta maaf. Aku terlalu cemburu, dan tanpa meminta penjelasan apapun darimu, aku langsung mengakhiri hubungan kita.” Jinri sedih. Taemin merangkulnya.
“Gwaenchana, yang penting sekarang semuanya sudah jelas, kan? Tapi, gara-gara kau pesta kejutanku tidak jadi, deh.”
“Mianhae. Lagipula, siapa yang tidak cemburu melihat kekasihnya pergi dengan yeoja lain, hah?! Ini juga salahmu, tahu!” Taemin tertawa. Jinrinya sudah kembali.
“Saranghae, Lee Taemin.” Jinri mencium pipi Taemin. Taemin terkejut, namun kemudian ia tersenyum. Ia balas mencium pipi Jinri.
“Nado saranghae, Cho Jinri.” Mereka pun bertatapan dan saling tersenyum.
THE END

FF Romantic Secret

Title : Romantic Street
Author : Aca Min Min
Cast :
SNSD
Super Junior
Length : Oneshoot
Rating : G
Genre : Romance

Taeyeon’s Story

“ Oppa, kita pergi kesana yuk !!!” ajak wanita berparas imut. Kim Tae Yeon SNSD.
“Ayo chagi.” kata orang yang sedang digandeng oleh wanita itu. Dia Leeteuk Super Junior.
“Leeteuk oppa, bagaimana jika kita beli arum manis itu ? Sepertinya lezat.” sambil Taeyeon menunjuk penjual arum manis.
“Ayo !” Taeyeon sambil menggandeng tangan Leeteuk. Leeteuk hanya tersenyum memamerkan lesung pipitnya didepan Taeyeon.
“Yak! Jangan tersenyum seperti itu kepadaku.”
“Waeyo? Muka mu memerah Kim Tae Yeon. Hahaha.” Goda Leeteuk sambil tertawa.
“Yak! Oppa !“ teriak Taeyeon malu sambil menutupi wajahnya yang memerah.
“Annio. Oppa hanya bercanda.” Leeteuk sambil mengelus rambut Taeyeon.
“Ayo cepat ! Kita beli arum manis itu.” rengek Taeyeon.
“Iya chagi.” Mereka berdua berlari menuju tempat arum manis itu.
“Agassi, beli arum manis nya satu.”
“Kok satu?” tanya Leeteuk.
“Itukan hanya untukku. Apa oppa juga mau?”
“Annio. Untukmu saja.” Taeyeon mengangguk sambil mengamil arum manis yang dibelinya.
“Ini …” kata Taeyeon sambil menyuapi arum manis itu kepada Leeteuk. Leeteuk membuka mulutnya lebar-lebar kemudian memakannya. Lalu mereka saling tersenyum penuh arti satu sama lain.
“Saranghae” Leeteuk berbisik ke telinga Taeyeon.
“Nado~” Taeyeon juga berbisik ke telinga Leeteuk.
Mereka pun melanjutkan bertatap-tatapan lagi.
Jessica’s Story

“Oppa, sudah lama kita tidak bertemu sejak kau wamil.” kata wanita berparas seperti barbie duduk dibangku taman. Jessica Jung.
“Nde Sica. How are you?” kata lelaki itu. Heechul Super Junior.
“I’m fine. Really fine.”
“Okay. Sica mau oppa belikan minuman disana?” Heechul menunjuk kearah orang yang berjualan minuman. Jessica hanya mengangguk.
Beberapa menit kemudian.
“Sica I’m coming ~ Ini minumannya.” kata Heehul sambil memberi minuman yang ia beli untuk Jessica. Heechul dan Jessica pun meminumnya bersama.
“Oppa. Aku sungguh rindu kepadamu.” kata Jessica menatap dalam Heechul. “Tidak ada lagi yang menjadi tempat curhatku lagi.”
“Sekarang kan oppa ada didepanmu. Cerita lah apa yang ingin kau ceritakan.”
“Aku hanya merasa sedikit kesepian tanpa oppa disampingku.”
“Kau hanya tinggal menungguku setahun lagi. Lalu kita akan seperti dulu lagi.”
Jessica hanya mengangguk. Heechul tersenyum sambil menggenggam tangan Jessica. Jessica terlihat terkejut kemudia dia merasa malu karena tangannya digenggam oleh Heechul.
Sunny’s Story

“Oppa, aku ingin ke salon untuk mengganti warna kuku ini.” kata yeoja berparas imut Sunny sambil menunjukkan kukunya.
“Oppa punya ide. Bagaimana untuk mengisi hari ini kita hias kukumu itu.” kata Sungmin.
“Ide yang bagus. Tapi kau yang menghiasnya ya oppa” kata Sunny riang.
“Nde … Mana kutek mu ?”
“Ini .. “ Sunny memberi beberapa koleksi kutek nya kepada Sungmin.
“Mau warna apa ?”
“Terserah oppa”
“Pink ?” Sunny hanya mengangguk.
Sungmin mulai menghias kuku Sunny. Tanpa disadari Sungmin, ternyata Sunny menatapnya sedari tadi.
“Kenapa melihatku begitu? Apa aku ini begitu tampan?” kata Sungmin pede.
Sunny hanya tertawa menanggapinya. Mereka berdua tertawa bersama. Sambil Sungmin menghiasi kuku Sunny.
Tiffany’s Story

“Oppa … Aku ingin sesuatu untuk dimakan.” kata Tiffany di ruang tamu dorm SNSD.
“Mau apa?” tanya Siwon. Namjachingu Tiffany.
“Nde … Pokoknya sesuatu yang bisa dimakan.”
“Bagaimana kalau es krim?”
“Eummm … boleh …”
“Kau tunggu disini ya.”
“Nde …”
Berapa menit kemudian Siwon datang.
“Pany-ah … Aku datang ~” kata Siwon sambil membawa es krim yang tadi ia beli.
“Yeee … Es krim!” kata Tiffany senang lalu mengambil es krim yang Siwon beli. Dengan cepat Tiffany langsung melahapnya. Karena tidak hati-hati, sisa es krim yang Tiffany makan berlepotan di sudut bibirnya. Siwon tertawa melihat Tiffany. Dengan hati-hati Siwon membersihkan sisa es krim sudut bibir Tiffany. Tiffany kaget, tapi sesaat kemudian dia tersenyum. Memamerkan eye-smile nya.
Hyoyeon’s Story

“Mianhae … Oppa terlambat” kata lelaki bernama Eunhyuk.
“Sudah jam berapa ini ?!!” marah Hyoyeon.
“Jam 2”
“Kita sudah berjanjian dari jam 11 dan sekarang kau baru datang?!”
“Mianhae Hyo … Tadi macet. Mianhae … Mianhaeyo …”
“Yak ! Jangan banyak alasan kau, Lee Hyuk Jae !!” kata Hyoyeon. “Rasakan ini” Hyoyeon memukul Eunhyuk.
“Yak ! Sakit Kim Hyoyeon”
“Makanya jangan datang terlambat. Kau tau kan, aku tidak suka bila seseorang tidak menepati janjinya.” kata Hyoyeon yang langsung pergi. Eunhyuk hanya bisa menatap Hyoyeon dari kejauhan.
Yuri’s Story

“Oppa … Kau menyembunyikan apa dibelakangmu ?” kata Yuri.
“Kau tidak boleh tau Kwon Yuri.” Kata Yesung rahasia.
“Aiissshh. Oppa berani rahasia-rahasiaan denganku?” kata Yuri memanyunkan bibirnya. Layaknya orang marah.
“Tadaaaaa ~ “ lalu Yesung memperlihatkan boneka yang ia beli khusus untuk Yuri.
“Untukku?”
“Annio. Ini untuk Jessica.”
“Yak! Kenapa kau memberinya kepadaku?” tanya Yuri kesal.
“Annio. Aku hanya bercanda. Ini untukmu Princess Yuri.”
“Nde ~ Gomawo oppa. I love you.” sambil Yuri memeluk erat boneka yang diberikan Yesung kepadanya.
“I love you too.” Yesung tersenyum melihat Yuri bahagia.
Sooyoung’s Story
*Sooyoung cantik banget :D
“Yeoboseo.” kata Sooyoung mengangkat telepon dorm yang berbunyi.
“Yeoboseo. Sooyoung-ssi ? Nde ?”
“Nde … Nugu ?”
“Aku pengantar Pizza. Tolong bukakan pintu untukku noona”
“Nde. Akan segera aku bukakan.” lalu Sooyoung menutup teleponnya dan berlari membuka pintu dorm.
“Oppa ~” kata Sooyoung terkejut. “Kenapa oppa ada di sini?” Sooyoung kaget melihat kedatangan Ryeowook di dorm.
“Memangnya aku tidak boleh kesini ?”
“Annio ~ Hanya saja aku terkejut melihat oppa disini. Lagian oppa kesini tidak bilang dulu padaku.”
“Oppa kan ingin membuat surprise untukmu.”
“Kenapa oppa manyamar menjadi tukang pizza ?! Aku kira tukang pizza beneran.” Raut wajah Sooyoung tampak kecewa karena ia kira tukang pizza akan mengantar pizza gratis untuknya. *shikshin Soo kambuh :D
“Jadi kau ingin pizza ? Jika ini membuatmu senang mari kita beli pizza sekarang.” Ajak Ryeowook.
“Annio. Dengan oppa ada disini. Itu sudah membuatku senang.” kata Sooyoung tersenyum manis. Mereka saling melempar senyuman manis.
Yoona’s Story

“Oppa ~ I’m coming ~ ” Kata Yoona.
“Yoong. Ayo masuk!” kata Donghae.
“Nde ~ ” Yoona masuk ke dorm Super Junior.
“Kau mau minum apa?”
“Apa saja yang penting minuman”
“Teh hangat?”
“Nde ~ ”
Beberapa saat kemudian.
“Ini teh hangatnya.” Donghae membawa dua cangkir teh hangat. Satu untuknya dan satu lagi untuk Yoona.
“Gomawo”. Mereka meminum teh hangat bersama. Yoona dan Donghae mencuri-curi pandang satu sama lain.
“Kenapa kita curi-curi pandang? Bukankah kita sudah resmi pacaran ?”
“Nde ~ Oppa juga curi-curi pandang padaku. Tapi aku rasa, oppa begitu tampan hari ini. Sehingga aku tidak bisa menjauhkan pandanganku ke wajah oppa”
“Kau menggombal ?”
“Annio. Oppa ini aneh sekali, dipuji malah tidak mau”
“Nde~ Hari ini kau juga sangat cantik Yoong. Itu sebabnya aku juga curi-curi pandang kepadamu.”
“Aku kan memang cantik” kata Yoona dengan pedenya. Donghae hanya tertawa.
“Yoong. Aku merasa sangat beruntung bisa mendapatkanmu. Kau baik, cantik, lembut, semua yang kuinginkan ada padamu. Saranghaeyo.”
“Nado oppa.” Setelah itu mereka saling memandang penuh cinta.
Seohyun’s Story

“Oppa! Pemandangan di taman ini sungguh indah.” kata Seohyun
“Nde ~ Itu sebabnya jika aku sedang galau aku akan pergi kesini.” Kata Kyuhyun.
“Galau? Kenapa oppa galau?”
“Oppa memikirkanmu.” kata Kyuhyun gombal. Seohyun mengalihkan wajahnya kearah lain agar Kyuhyun tidak melihat wajah merahnya.
“Oppa bisa saja. Oppa mau menggombal hah ?”
“Annio. Itu kenyataannya.” Kata Kyuhyun.
“Chagi ! Tali sepatumu lepas.” Kyuhyun langsung kebawah membetulkan tali sepatu Seohyun. Seohyun hanya melihat Kyuhyun dengan wajah kaget bercampur senang. Ia tidak menyangka ternyata Kyuhyun punya sisi romantis. Kyuhyun pun berdiri.
“Oppa, aku tidak menyangka. Ternyata dibalik sikap evil mu kau punya sisi yang romantis juga”
“Tentu saja. Cho Kyuhyun gitu loh ~” Kyuhyun dengan pedenya.
Seohyun hanya tersenyum.
“Seohyun-ah. Saranghae.”
“Nado Oppa.”

yang uda baca tinggalkan jejak '-'